(Source: lintangnagari, via kuntawiaji)
till raindrops ...
life is loving. Allah.
(Source: artsianadevi, via shafirameidyana)
5 cm
Setiap kamu punya mimpi atau keinginan atau cita-cita,
kamu taruh disini, di depan kening kamu.. jangan menempel.
Biarkan dia menggantung..
mengambang..
5 centimeter..
di depan kening kamu.
Jadi nggak akan pernah lepas dari mata kamu.
Setelah itu yang diperlukan hanya kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat banyak dari biasanya,mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.
” “
Ketika aku berkata, “Aku merasa sendiri ”
Allah berfirman, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar-Ra’d: 11)”
Lillah..
Ini kisah tentang seorang wanita shahilah lagi mu’minah. Siti Hajar namanya.
tentu, kita ingat bahwa dalam sejarah hidupnya, pernah ia ditinggal oleh sang suami, Ibrahim alaihimussalam..
begini, agaknya mesti saya hadirkan kembali ilustrasi peninggalan itu..
Di siang terik itu, kala melangkah kaki sesosok besar berwajah teduh. Subhanallah.. , santun nian tunduk kepalanya…
Beriring di belakang, seorang Ibu berwajah welas, bertutur asih. Berulang ia memandang sekitar. Menatap punggung suaminya. Menoleh pada wajah polos yang tengah pulas di pelukannya. Berulang: sekitar-punggung suami-si polos , dan lagi: si polos-sekitar-punggung suami.
Begitu, berulang-ulang.
Menataplah sang Ibu atas tanah tandus tak bertuan di sekeliling, kala ia, sosok besar berwajah teduh itu menghenti langkah.
Terkejut. Lelah. Tak mengerti.
Ah ya, belum usai letih perjalanan yang ia rasakan. Belum jua ia mampu berpikir jernih, sang lelaki mulai beranjak menjauh. Menjauh, meninggalkannya. Meninggalkan mereka.
Paraunya, “Yaa.. Ibrahim, apa yang kau lakukan dengan meninggalkan kami disini?”
Tidak menoleh! Suami tetap melangkah mantap. Mempercepat.
Sekitar disapu pandang, Allah.. apa-apa ini? Apa lagi kini?
Tegas. Sedikit ia keraskan suara, “Yaa.. Ibrahim, apa yang kau lakukan dengan meninggalkan kami disini?”
Coba lihat, dengar, dan rasakan! Betapa parau itu mencabik-cabik hati sang lelaki. Hingga langkahnya pun melamban. Hatinya dilema, terbelah dua, Allahu Rabb.. aku tiada mengerti makna perintahMu ini.. sungguh pun…
Tetapi ia, suami, tidak berhenti menjauh.
Di tengah kebingungan. Padang gersang tak bertuan. Tanah tandus tak beroase. Tiada penghidupan. Hampir-hampir tiada yang mampu menjadi sumber kehidupan.
Dalam kepanikan. Dalam kekhawatiran. Dalam kecemasan. Lihat, dengar, rasakan…
“Tunggu! Suami ku, adakah ini perintah Allah?”
Cukup. Hanya dengan dua kali panggilan berulang yang tak terjawab, keimanan kini mengambil alih. Menggubah kata tanya dalam serta merta. Hingga ia, sang suami pun tercekat. Berhenti ia. Memutar.
“Ya, duhai istriku… ini adalah perintah Allah..”
Dan, ini adalah fragmen menyejarah favoritku.
Di tengah kebingungan. Dalam kepanikan. Dalam kekhawatiran. Dalam kecemasan. Dalam ketidakjelasan. Dalam letih yang menyesak-nyesak. Dalam buruk sangka yang bertambah-tambah.
Namun ikhlas itu„
Mari-mari… lihat, dengar, rasakan…
“Jika ini adalah perintah Allah… maka sungguh ia tidak akan menyia-nyiakan kami!”
Dan sang Ibu, Siti Hajar yang mulia, kembali pada tempat Ibrahim meninggalkannya semula. Kembali. Tanpa negosiasi apapun. Tanpa buruk sangka.
Ia hanya tau, bahwa Allah menyuruhnya begitu. Maka begitu..
Karena yang ia tau hanyalah bahwa Allah, bersama ku…
Itulah kisah pertama.
Siti Hajar, rela ia ditinggal. tanpa banyak tanya. hanya karena satu ucapan : ini perintah Allah.
Maka sudah. bagi ia, urusannya hanya sampai situ. itu perintah Allah. Maka akan begitu. Maka baginya Lillaah.. , ini karena Allah..
Ia melompati batas kemanusiawiannya.
itulah satu contoh pembuktian frase syurgawi itu: ketika kau mengatakan, bahwa itu karena Allah..(http://www.keluargahanif.blogspot.com/2010/08/ketika-kau-mengatakan-bahwa-itu-karena.html)
Terkadang kita lebih sering merasa kecewa saat berbuat sesuatu karena orang lain. terlebih jika responnya tidak sesuai yang diharapkan.
Tetapi ketika engkau berbuat sesuatu karena Allah.. lillah..
Engkau tidak akan sedikitpun merasa kecewa.
Karena Allah, Dia Yang Maha Mengetahui.
subhanallah.
someday i’ll be there for You. Allah.
(Source: ahmad-jack, via matzenmatzen)
if i’m amazing,
i won’t be easy.
(via irreplaceableoldfriend)
beautiful.
no. i’m not. still love the rain..
(via irreplaceableoldfriend)
Allah knows what’s best for us
So why should we complain
We always want the sunshine
But He knows there must be rain
We always want the laughter
And the merriment of cheer
But our hearts will lose their tenderness
If we never shed a tear.
Allah tests us often
With suffering and with sorrow
He tests us not to punish us
But to help us meet tomorrow
For growing trees are strengthened
If they withstand the storm
And the sharp cut of the chisel
Gave the marble grace and form
Allah tests us often
And for every pain He gives to us
Provided we’re patient
Is followed by rich again
So whenever we feel that everything is going wrong
It is just Allah’s way
To make our spirit’s strong.
Author: Unknown
(via muslimahme)